Jumat, 06 Januari 2012

Pencahayaan studio 2



Pengenalan Dasar Pencahayaan

Cahaya dalam fotografi adalah unsur yang paling penting dan utama untuk menciptakan sebuah gambar, image atau foto.

Fotografi sendiri berarti: menggambar dengan cahaya

Tanpa adanya cahaya kita bagai berada di ruang yang gelap gulita tanpa dapat melihat apapun juga.

Kita dapat melihat obyek, memfokuskan lensa kamera dan menekan rana merekam gambar kedalam film semata-mata karena adanya cahaya.

Cahaya memberikan informasi tentang struktur bentuk object yang akan difoto.

Apa yang kita lihat pada benda adalah akibat dari pantulan cahaya ke benda tersebut yang kita tangkap dengan mata.

Pencahayaan yang diatur dengan baik akan mampu memperlihatkan hasil yang berbentuk dua dimensi (foto) menjadi seakan tiga dimensi.

Cahaya dapat menambahkan mood atau rasa dalam sebuah karya foto sebagai contoh dalam semua film horor atau thriller..mahluk yang menyeramkan selalu diberi penyinaran dari bawah..sehingga penonton me 'rasa' seram.

Kemampuan seorang fotografer dalam mengatur dan menghitung pencahayaan akan menentukan kualitas gambar yang dihasilkan.

SIFAT DASAR CAHAYA

1. Cahaya dapat menembus
  • Cahaya dapat menembus bahan-bahan yang tidak padat seperti kain, kertas kalkir dan kaca sehingga kualitas kerasnya cahaya dapat dibuat lunak atau soft.

2. Cahaya dapat difokuskan
  • Cahaya dapat kita salurkan kearah mana kita kehendaki, dia dapat dikumpulkan dan difokuskan agar kuantitasnya lebih besar lagi. Sebagai contoh adalah sinar Matahari yang difokuskan oleh surya kanta atau kaca pembesar.

3. Cahaya dapat dipantulkan
  • Cahaya itu dapat pula kita belokan atau kita pantulkan dengan benda yang mempunya daya pantul yang tinggi seperti cermin, styrofoam, kertas perak dll yang lazim kita sebut dengan reflektor untuk menyinari bagian-bagian yang gelap.

4. Cahaya mempunyai warna
  • Semua sumber cahaya mempunyai warna atau umumnya kita sebut dengan suhu warna dalam hitungan derajat Kelvin dan dapat diukur dengan Kelvin Meter / Color Meter.

Walaupun tidak secara fisik memberikan efek yang sama dengan suhu panasnya api atau dinginnya es, secara psikologi warna dapat juga dikelompokan seperti contoh warna yang hangat (merah & kuning) dan dingin (biru & hijau).

Cahaya dari sang Suryapun mempunyai warna yang berbeda disepanjang hari

Pada pagi dan sore hari akan memberikan warm tone color atau warna yang hangat kekuning kuningan, maka dari itu pemotretan model di outdoor dianjurkan pada saat seperti ini.

Derajat Kelvin rata-rata pada siang hari adalah 5500K
  • Lilin 1800K
  • Bohlam 100watt 2850K
  • Bohlam 500watt 3200K
  • Fotoflood 3400K
  • Flash 5500- 5700K
  • Langit biru 10000-12000K

Mata manusia kurang peka akan perubahan warna cahaya tetapi film sangatlah peka oleh sebab itu film dibagi menjadi 2 macam atau jenis yaitu :

1. Film untuk Daylight
2. Film Type A dan Type B untuk Tungsten

Apabila pemakaian film tidak sesuai dengan peruntukannya, sebagai contoh film Type A untuk pemotretan dengan tungsten maka dibutuhkan filter koreksi untuk menormalkan kembali warna yang terekam.

STUDIO FOTO

Pada umumnya studio terbagi dalam beberapa jenis menurut kegunaan dan kategorinya.

Jenis foto studio yang paling banyak dimiliki oleh fotografer profesional adalah jenis studio untuk memotret benda atau dikenal sebagai still-life foto studio dan untuk memotret manusia atau kerennya disebut portrait studio.

Jenis studio lainnya yang khusus dibuat menurut subjek yang difotonya adalah studio untuk memotret mobil, food fotografi, fashion fotografi yang lebih luas ukurannya dari portrait fotografi dll.

Fungsi utama dari studio adalah untuk memberikan kemudahan dalam pengaturan cahaya serta subjek.

Satu-satunya cara adalah memisahkan subject kedalam ruang dengan penggunaan cahaya yang dapat dikontrol sesuai dengan kemauan kita

Hal ini adalah kebalikan dari pada apabila kita melakukan pemotretan diluar ruang dengan mengandalkan cahaya dan apa yang telah disediakan oleh Tuhan YME, kita tidak dapat mengontrol sang Matahari dan mengatur atau merubah keadaan alam sekitar sesuai dengan kehendak kita, melainkan kita harus melakukan kompromi dan menyesuaikan keinginan dengan keadaan

Tetapi ada juga yang disebut daylight studio atau studio yang menggunakan Matahari sebagai sumber pencahayaannya.

Walaupun kita tetap harus berkompromi dengan keadaan cahaya yang disediakan sang surya, kita masih tetap dapat melakukan pengontrolan terhadap cahaya dengan menggunakan reflektor dan penyaring sinar yang masuk dengan tetap menyediakan kemudahan dalam mengontrolan subjek yang hendak kita foto

SUMBER PENCAHAYAAN DALAM STUDIO

Sumber pencahayaan Studio ada 3 macam

1. Sinar Matahari yang masuk melalui jendela atau lazim disebut Window Lighting
  • Cahaya Matahari ini sebaiknya tidak langsung mengenai objek karena akan susah sekali mengontrol kontrasnya
2. Lampu Tungsten atau Fotoflood
  • Lampu tipe ini biasanya kita sebut dengan Continous Lighting atau cahaya yang bersinar secara terus-menerus. Keuntungannya akan lebih mudah pengaturannnya, apa yang kita lihat itu yang terekam kedalam film. Kerugiannya adalah : silau, panas dan berkecepatan lambat
3. Flash
  • Berbagai macam jenis flash banyak ditawarkan pasaran saat ini dari yang paling sederhana seperti elektronik flash (Canon speedlight, SB Nikon ,Metz, Nissin dll) hingga yang canggih seperti Broncolor, Visatec, Bowens, Hensel, Proflash, Electra, Multiblitz, Elinchrom dll

Bentuknya Flash juga beraneka ragam..
a. Camera Flash
  • Built-in flash, Flash yang ditaruh diatas kamera pada hotshoe dan/atau pada bracket seperti Metz CT 45,CT60 dll yang dihubungkan dengan kabel syncro ke terminal x sync kamera
b. Monoflash atau dikenal juga dengan Monoblok / Monolight
  • Jenis lampu ini adalah jenis yang paling sering digunakan dimana instrumen pengaturannya berada dalam satu body dan pemakaiannya tinggal dicolok ke stop kontak, biasanya lampu jenis ini dilengkapi dengan built in slave yaitu mata yang menangkap sinar flash dari lampu lain sehingga menyalakan flashnya

c. Flashhead dengan Powerpack / Generator
  • Alternative lain dari monoblok adalah Powerpack.

Lampu jenis ini terdiri dari dua bagian yaitu :
a. Flash Head sebagai sumber cahaya
b. Powerpack / Generator sebagai sumber daya
Flashhead hanya sebagai sumber cahaya sedangkan sumber daya terletak terpisah dan dihubungkan oleh kabel.

Karena itu bentuknya lebih kecil dari monoblok menjadikan lampu jenis ini lebih fleksibel serta mudah dalam pengaturan karena instrumen pengaturannya tidak terletak pada flashhead melainkan pada sumber dayanya yang dapat diletakan didekat fotografer
Satu Powerpack dapat menyediakan daya untuk dua hingga empat flash head, tergantung pada jenisnya dan besarnya daya yang dimiliki yaitu Joule atau Watt per-Second (WS)

Monoblok dan Flashhead ini mempunyai kelebihan dibandingkan saudara kecilnya Elektronik flash yaitu memiliki apa yang disebut dengan modelling light atau lampu penuntun yang fungsinya menuntun kita untuk dapat mengatur arah lampu dengan sebaik-baiknya.

Flash Jenis lainnya adalah :
d. Light Brush
  • Powerpack dengan ujung yang dapat diganti-ganti sehingga menghasilkan cahaya yang kecil dan digunakannya seperti kita menggunakan alat cat airbrush
e. Ringflash
  • Ditaruh seperti filterdidepan lensa efeknya bila diatur sedemikian rupa dapat memberi bayangan tipis disekeliling obyek. Biasanya flash ini dipakai untuk pemotretan mikro fotografi
f. Linear Flashtube
  • Flashtube yang berbentuk macam neon...panjang sering digunakan untuk mencahayai background

PENCAHAYAAN DI STUDIO

Standard pencahayaan dalam studio yang umum dipakai saat ini adalah elektronik flash menggantikan lampu continuous atau tungsten lighting

Keuntungan yang didapat dari Elektronik Flash adalah :
1.   Dingin tidak mengeluarkan panas dan cahaya silau secara terus menerus yang mengganggu
2.   Kecepatan Tinggi sekitar 1/100 hingga 1/500 second sehingga dapat membekukan gerak
3.   Karena suhu warna flash yang berkisar antara 5500K s/d 5700K maka sesuai dengan suhu warna Film Daylight yaitu 5500K

Hal diatas menggantikan kerugian Lampu Tungsten yang antara lain:
1.   Panas dan silau
2.   Slow atau harus menggunakan kecepatan yang lebih lambat untuk mendapatkan diafragma yang ideal atau DOF yang diinginkan
3.   Kebanyakan lampu ini mempunyai suhu sekitar 3200K-3400K dan untuk mendapatkan hasil warna yang normal dapat digunakan Type B Tungsten Film atau Type A film yang sedikit diatas suhu warna tungsten yaitu 3400K atau menggunakan filter koreksi didepan lensa atau sumber cahaya Tungsten itu sendiri

Keuntungan lain dari pada Elektronik Flash adalah karena bentuknya yang mungil serta suhu yang dingin tidak panas maka dapat dimasukan kedalam softbox atau aksesori tambahan lainnya yang beraneka ragam.

Tetapi lampu tungsten juga memiliki kelebihan khusus dibandingkan dengan Elektronik Flash, kelebihan lain itu adalah :
1.   Lampu Tungsten dapat merekam Motion Bur atau merekam gambar gerak yang blur atau istilah kerennya Streak Photography yang dapat digabungkan dengan flash untuk mendapatkan gambar yang tajam diakhir blur akibat gerakan tersebut.
2.   Mengumpulkan Quantitas jumlah cahaya yang ideal untuk mendapatkan DOF yang ideal pada pemotretan tertentu seperti Industrial Fotografi, dengan Tungsten kita dapat merekam ruang tajam gambar sesuai dengan diafragma yang kita butuhkan dengan cara mengatur atau menyesuaikan kecepatan rana.
Elektronik Flash dapat melakukan hal yang sama dengan cara Multiple Flashes atau dengan melepaskan Flash secara berulang kali dengan catatan
  • 1 x flash = normal eksposure contoh f/number 4
  • 2 x flashes = +1 stop f/5.6
  • 3 x flashes = +1½ stop f/6.7
  • 4 x flashes = +2 stop f/8
  • 6 x flashes = +2½ stop f/9.6
  • 8 x flashes = +3 stop f/11
  • 10x flashes = +31/3 stop f/12.5
  • 12x flashes = +3½ stop f/13.2
  • 14x flashes = +32/3 stop f/14.2
  • 16x flashes = +4 stop f/16
tetapi tetap saja akan mudah bila menggunakan Tungsten, tinggal menggunakan fasilitas AV, mengatur diafragma yang diinginkan dan speed akan otomatis menyesuaikan

Menentukan besarnya kekuatan Studio Flash (kecuali kamera flash) tidak dengan GN atau Guide Numbernya melainkan dengan Elektrikal Inputnya yaitu dengan Joule atau Watt per-Second (WS).

Maksudnya adalah kekuatan energi mentah yang dapat ditampung dalam unit, tergantung pada besarnya kapasitor dan voltase yang akhirnya akan dilepaskan menjadi energi cahaya dengan catatan tidak semuanya dapat dilepaskan menjadi cahaya karena adanya variable flashtube dan juga kebocoran.

Hal ini juga ada sangkut pautnya dengan aksesori yang dapat ditambahkan pada sumber cahaya ini seperti Softbox, Reflektor dan Payung Pantul

MENGUKUR PENCAHAYAAN STUDIO FLASH

Alat untuk mengukur kekuatan sinar atau menetukan bukaan diafragma yang dikeluarkan oleh lampu studio dengan berbagai macam aksesorinya hanya ada tiga macam yaitu dengan :

1. Flash Meter yaitu alat untuk mengukur diafragma yang dibutuhkan atau EV (Eksposure Value) dari Flash.

Ada 2 (dua) cara dalam membaca atau mengukur pencahayaan flash yaitu :

a. Incident Light Reading
Mengukur besarnya cahaya yang jatuh pada subjek dengan menggunakan kubah putih kecil yang terdapat pada flash meter dengan cara mengarahkannya kekamera dibagian yang ingin diukur

b. Reflected Light Reading
Mengukur besarnya cahaya yang direfleksikan oleh bagian tertentu pada subjek.
Alatnya bernama spot meter cara kerjanya hampir sama dengan lightmeter yang berada alam kamera hanya saja alat pada kamera tidak dapat mengukur kilatan cahaya.

2. Polaroid Film
Merupakan alat pengukur yang paling akurat dibandingkan Flash Meter tetapi masih menggunakan metode lama yaitu trial and error, semakin lama jam terbang seorang fotografer studio dia akan semakin dapat mengira eksposure yang pas dan semakin akrab sang fotografer dengan peralatan lightingnya semakin mudah dalam mengukur pencahayaan dengan tepat.

3. Dengan adanya kemajuan tehnologi digital, maka kamera digital pun bisa menjadi cara yang akurat untuk membaca pencahayaan flash, sama halnya seperti film Polaroid.

Berdasarkan sifat dasar cahaya, sumber cahaya studio seperti sinar Mentari, tungsten dan flash dapat kita

1. Lembutkan atau disaring agar sumber cahaya menjadi lebih lembut dan lebih melebar

Contohnya adalah SoftBox dengan ciri-ciri terbuat dari semacam kain campuran plastik dengan warna perak bagian dalamnya berfungsi untuk memantulkan/mengumpulkan cahaya dan hitam dibagian luarnya dan terdapat lapisan transparan didepannya yang berfungsi untuk melunakan cahaya yang keluar. Rangkanya terbuat dari aluminium dan mudah dibongkar pasang dalam waktu singkat

Jenis-jenis Soft Box menurut bentuknya:
a. Striplight dengan ukuran perbandingan panjang dan lebar berkisar antara 3 :15 dengan fungsi untuk memperoleh refleksi garis yang sempit tetapi memanjang pada pemotretan benda-benda yang mengkilat
b. Persegi panjang / rectangle lite
c. Bujur sangkar
d. Oktalite persegi delapan

2. Konsentrasikan atau diarahkan agar sumber cahaya dapat bertambah intensitas, kontras, mudah diarahkan dan tajam
Contohnya antara lain
a. Standard reflektor yang berbentuk semacam panci dengan dasar yang bolong dan biasanya adalah perlengkapan standard studio flash
b. Barndoor yang berfungsi untuk menyekat / menghalangi arah cahaya lampu agar tidak jatuh kebidang yang tidak diinginkan, bentuknya lembaran hitam dipasang fleksibel seperti daun pintu kandang (barndoor) di kiri dan kanan atau juga atas dan bawah standard reflektor
c. Cone / Snot

3. Pantulkan keberbagai bidang yang memantul, ini adalah alternatif lain untuk mendapatkan cahaya yang lebih besar dan lebih lembut tetapi dengan intensitas kekuatan yang lebih kecil dibandingkan dengan disaring
Contohnya adalah :
a. Styrofoam
b. Langit-langit / plafon rumah
c. Payung pantul dengan bermacam-macam warna dasar (emas, perak dan putih)
d. Bahan yang dibuat khusus untuk reflektor seperti Photoflex Lite Disc dll

Untuk menambahkan dan mengurangi Intensitas atau kekuatan cahaya ada 3 (tiga) cara yang dapat dilakukan, yaitu :
1.   Menaikan atau menurunkan kekuatan atau output power dari sumber cahaya
2.   Menggeser, mendekatkan atau menjauhkan sumber cahaya dengan obyek
3.   Menambahkan lensa pada sumber cahaya untuk memfokuskan kekuatan cahaya (optical snoot) atau filter/gel ND (netral Density) peredam sinar didepan sumber cahaya

Hal dibawah ini akan mempengaruhi bukaan diafragma dan kontras cahaya
1.   Semakin besar luas sumber cahaya terhadap obyek maka semakin rendah kontras cahaya yang dihasilkan, bayangan akan menjadi lembut.
2.   Semakin dekat sumber cahaya ke obyek semakin besar kontras permukaan obyek yang terdekat dengan yang terjauh dari sumber cahaya dan semakin jauh jarak sumber cahaya ke obyek semakin rendah kontras perbedaan obyek yang tercahayai khususnya pada obyek yang mempunyai kedalaman dimensi

Kesimpulannya:
Membuat Studio bagi pemula tidaklah membutuhkan biaya yang mahal..

Kita dapat membuat studio dengan modal yang udah ada seperti ruangan yang mempunyai jendela dirumah ditambah alat untuk memantulkan  cahaya dan BG (background) yang bisa dari kain atau sprei...

Atau dengan bohlam lampu 250 watt dengan kombinasi penutup, pengarah atau pemantul sinar seperti diatas.

Atau dengan elektronik flash yang dipantulkan keatas atau tembok samping maupun belakang dengan catatan tembok harus berwarna putih dan memperhitungkan GN flashnya

Be creative lah!

Pendapat umum menyatakan bahwa Fotografi adalah hobi yang mahal, mulai dari peralatan hingga biaya produksi untuk mendapatkan hasil selembar cetakan foto, saya yakin semua orang diruangan ini menyetujuinya

Untuk mendapatkan hasil karya fotografi yang baik, seorang fotografer harus dapat menguasai tehnik foto atau ketrampilan tehnik yang dapat dipelajari melalui sekolah maupun seminar atau workshop serupa ini

Tetapi untuk mendapatkan hasil karya yang sempurna yang dapat dibanggakan tidaklah dijamin oleh pengetahuan atau kepintaran dalam hal tehnik yang dikuasai oleh sang fotografer atau dengan kata lain, meskipun masalah tehnis merupakan ketrampilan atau pengetahuan dasar untuk mendapatkan suatu karya fotografi yang baik, tetapi hal tersebut tidak akan pernah bisa menghasilkan karya-karya foto yang gemilang tanpa dipadukan dengan kecermatan pengamatan, kepekaan perasaan dan ketajaman intuisi atau naluri serta mampu menjunjung tinggi etika profesi

Jadi dengan tidak menguasai sama sekali tehnik fotografi, fotografer benar-benar menggunakan perasaannya dalam membuat komposisi kemudian untuk urusan tehnisnya dia menggunakan metoda trial and error alias mencoba berbagai macam kombinasi kecepatan dan diafragma yang istilah fotografinya adalah bracketing

Satu yang menonjol dalam dunia fotografi saat ini adalah banyaknya hasil foto tetapi mengandung sedikit ‘jiwa’. Dengan makin canggihnya tehnologi fotografi yang mempermudah pemakaiannya orang akan lebih mengadu kecanggihan alat dan berlomba memiliki kamera yang canggih dari pada menghasilkan sebuah foto yang ber’isi’

Manusia memang makin pandai menciptakan alat bantu. Namun, bagaimanapun juga apa yang lahir dari otak tidaklah bisa disamai dengan alat buatan manusia

Ciri khas bukanlah suatu keahlian yang dapat dibeli maupun dipelajari tetapi merupakan bakat yang dapat diasah dan dikembangkan dalam diri

Kita harus mau dan mampu melihat dengan mata hati, mempertajam intuisi dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, serta mengikuti dorongan naluri seni yang mengalir bebas tanpa beban maka niscaya kita akan mampu menciptakan suatu karya foto yang ‘kental’ dengan personal touch

Tehnik Pencahayaan Portrait Klasik

Sudah menjadi pendapat umum bahwa foto yang disebut dengan potret/portrait adalah foto dengan manusia sebagai objeknya dan manusia yang berada didalam sebuah potret mempunyai perbedaan gaya dan karakter satu dengan lainnya.

Potret dalam bentuk nuansa klasik mempunyai perbedaan dalam pengambilannya. Sebuah potret klasik bukanlah foto yang candid atau yang diambil seadanya, melainkan sebuah hasil foto yang diatur sedemikian rupa pose dan komposisinya menurut kaidah dan disiplin fotografi potret yang telah berabad-abad di wariskan.

Tujuan dasar seorang tukang potret atau portraitist (portrait artist) adalah menonjolkan karakter dan membuat ideal subjeknya. Hasil potret yang baik tidak hanya menunjukan karakter dari subjek tetapi juga menonjolkan ke’cantikan’ atau ke’gantengan’ yang dimilikinya.

Lebih dari itu tampilan dari subjek dalam foto harus tampak tidak membosankan dan enak dilihat selamanya.

Semuanya itu merupakan suatu tantangan yang harus diatasi bagi seorang portraitist untuk dapat mencapai kesuksesan

Karena sebuah hasil karya foto yang dapat disebut sempurna terdiri dari berbagai macam hal-hal yang tidak dapat diukur dan bersifat relatif, maka untuk menghasilkan karya tersebut seorang portraitist dapat mengandalkan disiplin dan tehnik yang telah terbukti selama berabad-abad yang diantaranya adalah :

1. Elemen cahaya atau pencahayaan
2. Posing atau gaya
3. Komposisi
dan yang paling penting diantara ketiganya adalah elemen cahaya

Walaupun posisi angle kamera, pose dan ekspresi memegang peranan yang tak kalah pentingnya, pencahayaan adalah alat yang paling fleksibel.

Dengan pencahayaan yang tepat anda dapat merubah penampilan orang yang gemuk menjadi lebih kurus, orang yang lemah menjadi perkasa dan orang yang tua menjadi tampak lebih muda. Dengan cahaya yang cukup anda dapat menciptakan ilusi tiga dimensi diatas bidang yang rata. Pencahayaan yang diatur dengan hati-hati dengan rasio yang tepat menciptakan penampakan yang seakan membuat hasil potret menjadi terlihat hidup, ilusi yang membuat gambar dua dimensi seakan terlihat tiga dimensi.

Pencahayaan Dasar
Dibutuhkan 4 (empat) sumber pencahayaan dasar atau tradisional yang dapat dibedakan menurut fungsinya yaitu :
1. Key atau Mainlight
2. Fill light
3. Hairlight
4. Background light
Kadangkala lampu tambahan atau lampu kelima dipakai terutama untuk memotret seorang pria, lampu kelima itu disebut dengan:
5. Kicker

Semua pencahayaan potret mencontoh dan mengimitasikan sinar mentari yang dapat kita cermati secara alami.

The Key light, seperti halnya sinar mentari, adalah sumber cahaya yang memberikan penampakan bentuk dari subjek sedangkan pencahayaan lainnya hanya bersifat membantu melengkapi key light. Seperti layaknya sang surya, mainlight tidak pernah diletakan dibawah level mata, selalu terletak diatas wajah atau kepala dapat terletak dikiri atau kanan kamera.

Mainlight ini juga menciptakan apa yang disebut dengan catchligts di bola mata subjek.
Catchlights ini adalah pantulan dari sumber cahaya yang seharusnya tampak pada iris bagian hitam bola mata subjek dengan letak agak keatas tergantung dari pengaturan sumber cahayanya

Keylight biasanya adalah sumber cahaya yang lembut dan diatur tidak langsung terarah ketengah-tengah muka melainkan hanya menyerempet wajah subjek.
Apabila inti cahaya langsung mengarah ketengah subjek maka kulitnya akan cendrung oversaturated dan akibatnya seluruh foto akan tampak over

Fill light diletakan disamping dan dekat dengan kamera pada posisi yang berlawanan dengan mainlight. Hal ini untuk menerangi bayangan yang ditimbulkan oleh key atau mainlight, letaknya yang dekat dengan kamera dimaksudkan untuk mencegah timbulnya bayangan yang kedua. Letaknya hampir sejajar dengan kamera kecuali jika kamera diletakan pada posisi low angle.
Kadangkala sumber cahaya fill light ini digantikan reflektor dengan hasil yang tak kalah sempurna

Hair ligth adalah sumber cahaya tambahan yang bertugas menerangi bagian rambut dan terletak diatas kira-kira 45 derajat dari lens axis, berfungsi untuk memisahkan subjek dengan BG.
Dalam mengatur letak hairlight, kita harus berhati-hati agar tidak menyinari muka subjek dan lensa kamera karena akan menimbulkan flare

BG light berfungsi untuk menyinari BG agar subjek terlihat terpisah, sama seperti fungsi dari hairlight. BG light tidak boleh terlihat oleh kamera, harus tersembunyi baik dibelakang maupun disamping subjek

Kicker light adalah lampu tambahan yang biasanya dipakai untuk pemotretan pria agar terlihat lebih maskulin

Empat macam pola pencahayaan
1. Paramount lighting
2. Loop lighting
3. Rembrant lighting
4. Split lighting
adalah kombinasi sederhana dari perpaduan ke empat tipe sumber pencahayaan dasar.

Perbedaan pola pencahayaan tersebut adalah pada tata-letak sumber cahaya sehingga menimbulkan efek pencahayaan yang berbeda pada wajah

Pada Paramount lighting atau butterfly, sumber cahaya Mainlight dan Fill berada pada posisi yang sama hanya berbeda mainlight agak jauh diatas dan fill light dibawahnya.
Nama butterfly didapat dari bayangan dibawah hidung yang berbentuk seperti kupu-kupu

Nama Loop lighting didapat dari bayangan hidung yang membentuk lengkungan di pipi subjek yang dicahayai fill light, sedangkan mainlight terletak berlawanan disebelah kamera dan terletak sedikit agak jauh

Rembrant lighting berasal dari nama seorang pelukis maestro yang karya-karyanya kebanyakan menggunakan cahaya seperti ini yaitu dengan meletakan Keylight agak jauh dan lebih rendah dari loop lighting sehingga pada pipi subjek yang dicahayai oleh fill light terdapat bocoran cahaya berlian yaitu cahaya dari mainlight yang berbentuk segitiga terletak dipipi bagian atas subjek

Split light lebih mudah lagi yaitu setengah dari wajah tercahayai sedangkan setengahnya lagi sembunyi dalam bayangan

KOMPOSISI 

Terdiri dari:
1. Komposisi Letak
2. Komposisi Warna

Komposisi Letak

Komposisi konvesional adalah obyek diletakan di tengah, baik untuk pengambilan vertikal maupun horizontal.

Kemudian muncul the third rule yang bermula dari dasar teknik melukis, dimana dalam suatu bidang dibagi atas 3 bagian horizontal dan vertikal.

The rule of third, dimasukan dalam kategori breaking the rule oleh fotografer konservatif, karena sering kali tidak ada penyeimbang di sisi yang berlawanan sehingga berkesan tidak seimbang.

The third rule mulai digemari hingga sekarang sebagai salah satu jenis rule of photography dimana awalnya, masih mengikuti hukum gravitasi dan hukum sudut pandang.

Pada perkembangannya, hukum gravitasi dan sudut pandangpun dilanggar dan malah menghasilkan foto yang unik.

Dengan adanya the third rule bukan berarti hukum-hukum konservatif sudah punah, tapi cuma dianggap tidak lagi eyecatched.

Pedoman dalam membuat konsep komposisi letak tidak ada, yang penting adalah jiwa saat membidik sudah menyatu dengan apa yang kita lihat.

Komposisi Warna

Semua orang suka dengan foto yang semarak dengan warna, namun foto yang selalu dikenang adalah foto yang menampilkan warna sesedikit mungkin.

Perpaduan warna yang menarik bukan cuma antara warna kontras dan warna pastel atau perpaduan dari kedua jenis warna tersebut.

Contoh warna yang menarik sebenarnya dapat kita ambil contoh dari keadaan sekeliling kita, contoh:
  • White or yellow on black (dan sebaliknya) keadaan gelapnya malam dengan terangnya siang atau terangnya lampu.
  • Green on brown (dan sebaliknya) rumput dengan kayu (batang pohon) atau rumput kering.
  • Blue on white (dan sebaliknya) langit dengan awan atau pasir dengan laut.
  • Grey on blue (dan sebaliknya) langit dengan awan mendung
  • Orange on black (dan sebaliknya) terangnya matahari sore dengan gelapnya silhouette

Teknik Koreksi Sudut Pengambilan pada sesi Potret di Studio
Bagian muka manusia dan semua mahluk hidup adalah berbeda antara sisi kiri dan sisi kanannya dengan patokan hidung sebagian garis batasnya.
Yang paling mudah dilihat adalah manusia, bahwa terdiri dari sisi maskulin dan feminin, baik pada pria maupun wanita.
Sebelum mengambil foto, pelajari lebih dahulu sisi wajah yang akan ditonjolkan dengan cara meminta model memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan.
Teknik Koreksi terdiri dari:
1.   Koreksi melalui Kamera (lensa)
2.   Koreksi melalui Subyek
A. Koreksi melalui kamera
Fungsinya adalah untuk memperindah bentuk tubuh model, contoh pada pemotretan studio, 1 badan:
  • Eye level, dimana posisi kamera berada di tengah-tengah ketinggian POI dalam frame (berpatokan pada pinggul). Foto yang akan dihasilkan adalah ketinggian POI mendekati normal.
  • Low angle, dimana posisi kamera berada di bawah ketinggian POI, foto yang dihasilkan akan membuat POI seolah semakin tinggi, koreksi ini baik untuk POI yang berpostur pendek.
  • Hi-angle, dimana posisi kamera berada di atas garis batas pinggul. Foto yang dihasilkan akan membuat seolah POI semakin pendek.
Untuk menghindari distorsi perspektif akibat sudut pengambilan low dan hi-angle, sebaiknya digunakan lensa yang minimal 2 x panjang frame film, jadi apabila sisi panjang frame film adalah 35mm (perbandingan panjang dan lebarnya sama dengan frame pada sudut bidik), maka lensa yang baik adalah 70 – 85mm. Lensa ini memperkecil distorsi perspektif.
B. Koreksi melalui subyek (POI)
Selain melalui kamera (lensa), koreksi sudut pengambilan juga bisa langsung kepada subyeknya, tapi peranan penting disini adalah filter dan cahaya.
Sebagai contoh pada pengambilan foto CU dan MCU
  • POI bermuka bulat, berahang lebar atau berbadan gemuk. Gunakan short light dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap ke kamera lebih gelap. Posisikan kamera di atas muka POI
  • POI bermuka tirus atau berbadan kurus. Gunakan broad light, dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap kamera mendapatkan cahaya yang lebih banyak. Posisi kamera eye level POI
  • POI berkeriput, gunakan filter soft




Pencahayaan studio 1


Dasar-dasar Tehnik Pencahayaan Studio

Teknik Pencahayaan Studio 

Penerapan teknis pencahayaan di studio memiliki beberapa keterbatasan. meskipun demikian, anda harus dapat membuat lighting pada subjek foto seolah2 sumber cahaya y di pakai merupakan yang alami. Tetapi walau bagaimana pun teknis lighting yg dipakai tetap harus mengikuti teori cahaya dan pencahayaan. Pada dasarnya, pencahayaan di studio dapat memanfaatkan sinar jendela (Window Lighting) dan menggunakan cahaya buatan, saat ini yang akan di bahas adalah pencahayaan Window Lighting.
Tehnik Window lighting termasuk tehnik yg paling digemari karena lebih alami, Rembrandt van Ryn salah seorang pelukis asal Belanda adalah salah seorang yg sangat cermat memperhatikan arah datangnya cahaya dan banyak melukis dengan sudut datang cahaya sekitar 45 derajat dari belakang atau 90 derajat dari samping.
Dalam fotografi untuk menghasilkan efek cahaya rembrandt dengan memanfaatkan sinar dari jendela, untuk membatasi cahaya yg masuk digunakan tirai sebagai pemotong cahaya.

Kelebihan dan kekurangan window lighting 

Teknik pencahayaan window lighting adalah teknik pencahayaan yang praktis dan mudah di banding penggunaan lighting lainnya, namun demikian ada kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan teknik window lighting.
berikut kelebihan dari pencahayaan window lighting: 
Foto yang dihasilkan menghasilkan/menampilkan cahaya yg lebih natural 
Lokasi pemotretan dapat dilakukan dimana saja selama ruangan memiliki jendela dan matahari masih bersinar 
Pemotretan yang dilakukan di dalam ruangan memberikan rasa nyaman. Model tidak merasa terganggu dengan peralatan lampu dan cahaya lampu flash, sehingga foto terlihat dinamis dan tidak kaku. 
Peralatan yang di butuhkan relatif sedikit.

namun demikian ada beberapa kekurangan dari tehnik ini antara lain: 
Fotografer harus mengantisipasi keadaan cuaca yg berubah2, matahari yg bersinar tiba2 tertutup mendung atau tiba2 turun hujan. 
Waktu pemotretan terbatas karena tergantung kondisi cahaya matahari 
Jumlah model yang dipotret terbatas karena menghindari cahaya yg tidak merata dan detail foto yg tidak sempurna, semakin banyak jumlah model membutuhkan jendela yg cukup besar.

Ada beberapa hal yg perlu diperhatikan ketika melakukan tehnik window lighting, 
Tinggi kamera letak kamera sebaiknya setinggi mata model atau paling tinggi setinggi dahi model karena jika terlalu rendah maka lubang hidung dan hidung akan terlihat kurang mancung. Demikian juga jika kamera terlalu tinggi maka dahi akan tampak lebar dan dagu mengecil. namun pada prinsipnya posisi kamera lebih rendah ato tinggi akan menghasilkan distorsi, distorsi akan berkurang jika menggunakan lensa dengan panjang focal 80-135mm. 
Pengukuran Cahaya untuk menghindari bagian2 yang under dan over exposure, pengukuran cahaya dilakukan pada bagian yang terkena cahaya, terutama bagian wajah model, ada baiknya metering pencahayaan dinaikan 1/3 sampai 1/2 stop dari pengukuran cahaya sebenarnya agar ekposure yang di inginkan bisa diperoleh, namun hal ini tidak menjadi patokan tergantung ISO yg digunakan. 
Arah Cahaya Cahaya matahari yang datang dari Utara (northlight) merupakan cahaya yg paling tepat untuk tehnik ini dibandingkan cahaya yg datang dari arah lain. Cahaya yg datang dari arah ini menghasilkan efek pencahayaan yg konsisten, soft, dan dapat digunakan sepanjang hari. 
Posisi Model dan Background Jauh dekatnya objek dengan jendela dapat mempengaruhi tampilan pada background. jika model lebih dekat dengan jendela maka akan dihasilkan bayangan pada wajah yg lembut dengan background yang terlihat gelap, jika model jauh dari jendela maka efek pada model akan terlihat lebih keras dengan background yg terlihat terang. Disini pengaturan pose model harus diperhatikan untuk bisa menonjolkan karakter dari model tersebut.

Pencahayaan dengan menggunakan Peralatan Studio 

Sebelumnya telah dibahas tehnik pencahayaan dengan menggunakan pencahayaan alami yaitu sinar matahari, saat ini yang akan di bahas adalah pencahayaan dengan cahaya buatan yaitu dengan menggunakan lampu studio. Dasar dari dari pencahayaan studio sbenarnya mengacu pada sifat cahaya matahari, yaitu arah cahaya yang ditimbulkan harus searah sehingga bayangan yang timbul hanya satu, seperti sifat cahaya dari matahari. 

1. Pencahayaan dengan menggunakan satu sumber cahaya. 

Seorang fotografer hendaknya tidak terkendala oleh keterbatasan alat untuk berkreasi, Seorang fotografer sebaiknya memiliki konsep sebelum memulai pemotretan di studio agar ia dapat memanfaatkan satu sumber cahaya. Pengetahuannya mengenai cahaya dan karakteristiknya dari sumber cahaya yang digunakan sangat penting dalam membantu fotografer dalam menghasilkan karya yang di inginkan. Metode penggunaan satu sumber cahaya umumnya digunakan untuk membuat foto portrait dengan maksud untuk menampilkan karakter atau profil yang baik. 

Pemanfaatan satu sumber cahaya secara maksimal dapat dilakukan dengan menggunakan aksesori yang terdapat di sekitar, seperti kertas kalkir atau dengan mengubah posisi sumber cahaya terhadap terhadap objek, Dibutuhkan kecermatan untuk menentukan posisi pencahayaan terbaik yang dapat menampilkan objek secara tepat dan menarik. 

a. Paramount/Hollywood/Butterfly 

Pencahayaan jenis ini sering dipakai di Hollywood pada era tahun 1940-1950an, efek yang ditimbulkan oleh tehnik ini adalah bayangan yang mengikuti garis bawah lubang hidung dan jika diamati akan memiliki bentuk seperti bentuk kupu-kupu. 

Tehnik pencahayaan untuk mendapatkan bayangan tadi diambil dengan menggunakan lampu yang di arahkan tepat di depan model pada posisi yang lebih tinggi. Efek ini akan terlihat jelas pada sesorang yang memiliki struktur wajah yang bagus atau sempurna, Umumnya pemotretan jenis Fashion/Beauty lebih cocok dengan pencahayaan jenis ini. 



b. Loop 

Efek yang didapat dari teknik pencahayaan ini adalah timbul bayangan di salah satu sisi samping lubang hidung. Bisa berada di sisi sebelah kiri atau sisi sebelah kanan sesuai dengan letak lampu yang di arahkan ke model. Pencahayaan ini mudah diunakan untuk pemotretan keluarga besar atau perorangan. 



c. Rembrandt 

Seperti pada pembahasan pencahayaan Rembrandt dengan Window Lighting, selanjutnya ide ini diikuti oleh para fotografer dengan meletakan posisi lampu agak tinggi dari objeknya ( dapat disebelah kiri atau kanan objek). Efek yang didapat adalah bayangan segitiga yang terdapat pada bagian wajah mata disalah satu sisi wajah. Pencahayaan ini biasanya digunakan fotografer yang ingin menampilkan sebuah potret yang menonjolkan nilai artistik. 



d. Split 

Tehnik ini menonjolkan sebuah foto yang lebih tertuju pada nilai artistiknya. Efek yang dihasilkan berupa bayangan pada wajah yang terlihat setengah gelap dan setengah terang. Posisi lampu diarahkan tepat disamping kiri atau kanan dan searah dengan model. Biasanya kesempurnaan Split ini akan terlihat pada karakter wajah yang memiliki kulit putih dan struktur hidung yang bagus.

Elemen Komposisi dalam Fotografi


5 Elemen Komposisi dalam Fotografi
Oleh Darren Rowse
Komposisi yang baik merupakan elemen kunci dari foto yang bagus namun kadang kala merupakan sesuatu yang sulit untuk di definisikan.
Daripada melihat komposisi sebagai seperangkat aturan yang harus diikuti – sebaliknya saya melihatnya seperti kumpulan bahan-bahan yang dapat dibawa keluar dari ‘dapur’ dan digunakan untuk membuat makanan yang lezat. Atau saya sering menggambarkannya sebagai seperangkat 'alat' yang dapat diambil dari sabuk alat komposisi seseorang pada waktu tertentu dalam pembangunan sebuah gambar.
Kuncinya adalah untuk mengingat bahwa dalam cara yang sama seperti seorang koki jarang menggunakan semua bahan yang mereka miliki dalam setiap hidangan - seorang fotografer juga  jarang menggunakan semua bahan komposisi dalam pembuatan gambar. Hari ini saya ingin memberikan lima komposisi (atau alat, atau elemen) dari komposisi yang saya dapat di dalam fotografi. Lima elemen ini bukan merupakan aturan yang saya pertimbangkan saat membuat bidikan gambar.
POLA

Terdapat pola-pola di sekitar kita bila kita belajar untuk melihat sekeliling. Menekankan dan menggarisbawahi, pola-pola ini dapat menuntun ke gambar yang menarik perhatian - seperti terdapat pencahayaan dari atas saat pola-pola yang kita dapat rusak.
SIMETRI

Tergantung pada layar - simetri dapat mengarahkan kita menuju sesuatu - atau untuk menghindari sepenuhnya.
Sebuah simetris yang dibidik dengan komposisi yang kuat dan sudut yang baik dari suatu gambar dapat menyebabkan gambar yang menarik perhatian - tapi tanpa point of interest yang kuat itu dapat sedikit diprediksi. Saya lebih suka untuk bereksperimen dengan keduanya dalam satu bidikan untuk melihat yang terbaik.
TEKSTUR

Gambar dua dimensi namun dengan kepandaian menggunakan 'tekstur',  mereka terlihat  hidup dan hampir tampak menjadi  tiga dimensi.Tekstur Biasanya datang ke dalam tampilan gambar saat pencahayaan masuk dan menarik benda – benda di sudut.
DEPTH OF FIELD

Kedalaman bidang yang anda pilih saat mengambil gambar secara drastis akan berdampak pada komposisi dari suatu gambar.
Hal ini dapat mengisolasi subjek dari latar belakang dan latar depan (bila menggunakan depth of field yang sempit) atau dapat menempatkan subjek yang sama ke dalam konteks dengan menampakkan  sekeliling gambar melalui depth of field yang lebih besar.
BARIS

Garis dapat menjadi kekuatan dalam sebuah gambar.
Mereka memiliki kekuatan untuk menarik mata ke titik fokus utama dalam bidikan dan berdampak pada 'rasa' dari suatu gambar. Semua garis diagonal, horisontal, vertical, dan garis converging pada gambar akan memberi dampak berbeda dan harus melihat pada saat membingkai bidikan gambar dan kemudian dimanfaatkan untuk memperkuat gambar tersebut

Komposisi dalam Fotografi


KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI
Lesie Yuliadewi
Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Pada mulanya Frederick Scott Archer menemukan collodion, bahan baku fotografi, yang
dilapiskan ke kaca dan langsung dipasang pada kamera obscura untuk menghasilkan gambar. Cara
ini digunakan untuk memotret di seluruh Eropa dan Amerika. Para fotografer pada zaman itu masih
belum memperhatikan kualitas gambar. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan
kecanggihan teknologi, manusia menemukan bahan yang dapat membuat sebuah gambar menjadi
tajam, dan penggemar fotografi pun mulai memperhatikan nilai lebih karya fotografi. Berbagai aspek
penunjang keberhasilan yang memberikan nilai lebih mulai diperhatikan, antara lain komposisi yang
dapat membantu terwujudnya suatu karya fotografi yang bermutu.
Kata kunci: fotografi, komposisi
ABSTRACT
At the first time, Frederick Scott Archer found collodion, an element of photography, that
covered the glasses and can be put it on obscura camera to have the picture. This methode has
used before, in all European and American countries. The photographer, at that time, had not
cared about the quality of the picture. Meanwhile together advanced technology, human
discovered some elements that can make a picture became more sharply. From that point,
photographers become more appreciate with photography work. All sorts of aspects that can
give more value for the picture, has been more attractived, ie: composition that can help to
discover a better quality of photography work.
Keywords: photography, composition
PENDAHULUAN
Peradaban terus berkembang sejak manusia ada di bumi. Ditemukannya berbagai
temuan baru secara berkesinambungan telah mempermudah aktivitas hidup manusia.
Temuan dan ciptaan yang menghasilkan teknologi canggih dan mengagumkan itu
seyogyanya diiringi oleh adanya sentuhan estetis, sebab suatu benda akan terasa lebih
menarik apabila tersentuh oleh nilai estetis. Contohnya ialah karya-karya oleh bidang
fotografi.
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
49
Fotografi telah dirintis manusia sejak zaman Aristoteles, bahkan mungkin
sebelumnya. Aristoteles mengadakan percobaan dengan merentangkan kulit yang diberi
lubang kecil, digelar di atas tanah, dan diberi antara untuk menangkap cahaya matahari.
Percobaan tersebut telah mempelopori penemuan kamera.
Penemuan bahan yang dapat memproduksi gambar ditandai oleh lahirnya collodion
yang ditemukan oleh Frederick Scott Archer. Collodion merupakan bahan baku fotografi.
Bahan ini dilapiskan ke kaca dan langsung dipasang pada kamera obscura untuk
menghasilkan gambar. Meskipun kualitas gambarnya belum tajam namun penemuan ini
membuat para fotografer pada zaman itu terkagum-kagum. Pada masa itu cara ini
digunakan untuk memotret di seluruh Eropa dan Amerika. Kamera yang digunakan adalah
kamera obscura. Kemudian ditemukan kamera portable yang pengoperasiannya juga
secara manual.
Seorang fotografer harus mempelajari berbagai fungsi anatomi kamera agar dapat
mengoperasikannya secara baik. Kesalahan teknis sedikit dapat menyebabkan kegagalan
fatal. Tidak berputarnya gulungan roll film dapat menyebabkan semua hasil bidikan tidak
terekam, sehingga semua foto tidak dapat tercetak. Kegagalan seperti ini harus dihindari,
apalagi bila peristiwa yang dipotret tidak dapat diulang
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia dan kecanggihan teknologi,
fotografi mengalami kemajuan yang pesat. Ditemukannya berbagai peralatan fotografi
telah mendukung peningkatan kualitas karya. Kamera pun jadi makin multi fungsi dengan
adanya tombol-tombol otomatik, misalnya program Shutter speed dan bukaan diafragma.
Berbagai jenis pemotretan, seperti close-up dan lansekap dipermudah dengan fungsi
kamera yang semakin canggih. Penemuan-penemuan baru telah membuat seseorang
dapat membidikkan kameranya ke obyek secara mudah. Sementara itu bahan untuk
memproduksi dan mereproduksi gambar juga semakin berkualitas. Sejak ditemukannya
film gulung (roll film) oleh George Eastman pada tahun 1895, teknik produksi dan
reproduksi fotografi mengalami revolusi teknologi yang cukup pesat.
Berbagai penemuan tersebut telah mempermudah fotografer untuk berkarya. Para
fotografer menjadi lebih kritis untuk membedakan antara karya yang baik dan yang
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
50
kurang. Usaha untuk menghasilkan karya fotografi yang berkualitas mulai dipikirkan,
antara lain dengan cara berpedoman pada komposisi. Penguasaan komposisi yang benar
berdasarkan pedoman komposisi akan sangat membantu pemotret pemula untuk melatih
kepekaan estetiknya dalam memotret sehingga dihasilkan foto yang memiliki nilai seni
lebih daripada sekedar foto biasa. Foto yang asal jepret seringkali hasilnya berkesan biasa
saja, hanya menarik minat orang yang berkepentingan. Sedangkan orang lain yang tidak
berkepentingan sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya.
Pengetahuan mengenai komposisi dapat membantu fotografer untuk menghasilkan
foto yang baik. Penerapan komposisi ini dapat dilakukan dengan kamera manual yang
tingkat kesulitannya relatif lebih tinggi, semi otomatik yang tingkat kesulitannya sedang
atau full-otomatic camera seperti pocket camera yang sangat mudah penggunaannya.
UNSUR-UNSUR KOMPOSISI
Komposisi merupakan salah satu unsur penentu tingginya nilai estetik karya
fotografi. Menurut Charpentier (1993), komposisi adalah cara bagaimana gambar
membagi sebuah bidang gambar.
Penentuan komposisi dilakukan pada saat membidik obyek foto. Untuk itu
diperlukan penataan terhadap unsur-unsur yang mempengaruhi kekuatan suatu gambar
dalam sebuah bidang gambar, sehingga obyek fotografi dapat tampil sebagai point of
interest (pusat perhatian). Lebih dulu mata pengamat karya foto akan dipandu untuk
memperhatikan bagian yang menjadi pusat perhatian utama (main point of interest), baru
kemudian memperhatikan pusat perhatian kedua (secondary point of interest), sehingga
sebagian pesan yang akan kita sampaikan mealui foto dapat diterima dengan baik.
Awalnya tentukan dulu satu dominasi yang akan menjadi pusat perhatian utama
(main point of interest), karena suatu gambar sebaiknya menceritakan tidak lebih dari
sebuah cerita agar tidak kehilangan fokus. Dalam penentuan pusat perhatian (point of
interest) perlu diperhatikan unsur-unsur pendukungnya agar mempermudah untuk
menentukan apa yang akan ditonjolkan.
Unsur-unsur pendukung komposisi sebagai berikut:
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
51
• Ujud (shape), yaitu tatanan dua dimensional, mulai dari titik, garis lurus, poligon (garis
lurus majemuk/terbuka/tertutup), dan garis lengkung (terbuka, tertutup, lingkaran).
Tekniknya dapat berupa kontras pencahayaan yang ekstrim seperti siluet, penonjolan
detail-detail benda, mengikutkan subyek menjadi garis luar atau outline dari sebuah
tone warna tertentu. Ujud benda dapat diambil dari berbagai posisi kamera, seperti dari
bawah subyek. Manipulasi ujud dengan menggunakan berbagai macam lensa, mulai
dari lensa sudut lebar hingga lensa fokus panjang atau long-focus. Contohnya adalah
foto siluet manusia yang berdiri di tepi pantai menyaksikan matahari terbenam, siluet
nelayan yang mempersiapkan diri di saat matahari terbenam di tepi pantai untuk
menangkap ikan, atau foto piramid dan Sphinx dengan menonjolkan tekstur batunya di
Mesir.
• Bentuk (form), yaitu tatanan yang memberikan kesan tiga dimensional, seperti kubus,
balok, prisma, dan bola. Dalam fotografi ditunjukkan dengan gradasi cahaya dan
bayangan, dan kekuatan warna. Untuk menghasilkan foto yang baik sebaiknya
mengambil cahaya samping dengan sudut-sudut tertentu, dan menghindari
pencahayaan frontal.
• Pola (pattern), yaitu tatanan dari kelompok sejenis yang diulang untuk mengisi bagian
tertentu di dalam bingkai foto, sehingga memberikan kesan adanya keseragaman.
Contohnya adalah foto segerombolan bebek, tumpukan pot dari tanah liat.
• Tekstur (texture) yaitu tatanan yang memberikan kesan tentang keadaan permukaan
suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut, dan seterusnya).
Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kekontrasan yang timbul
dari pencahayaan pada saat pemotretan. Cahaya yang paling baik adalah cahaya
langsung matahari pagi dan matahari sore yang merupakan kunci sukses foto lansekap.
Contohnya adalah foto close up kembang kol atau tekstur pohon.
• Kontras (contrast) atau disebut juga nada, yaitu kesan gelap atau terang yang
menentukan suasana (atmosphere/mood), emosi, dan penafsiran sebuah citra. Kontras
warna disebabkan oleh warna-warna primer, yaitu merah, biru, dan kuning, atau akibat
dari penempatan warna primer terhadap warna komplemennya , seperti hijau, jingga,
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
52
dan ungu. Meskipun penggunaan warna tergantung pada pengalaman pribadi, namun
ada aturan umum bahwa warna yang berat akan menyeimbangkan warna-warna
lemah. Warna-warna berat atau keras berkesan penting dan bila digunakan sedikit
kontras warna akan ada aksentuasi yang tidak mengganggu keseluruhan warna.
Misalnya, foto pemandangan di tepi danau dengan aksentuasi rumah kayu bercat
merah menyala.
• Warna (colour) yaitu unsur warna yang dapat membedakan objek, menentukan mood
daripada foto kita, serta memberi nilai tambah untuk menyempurnakan daya tarik.
Warna dapat ditimbulkan melalui pilihan pencahayaan serta exposure, sedikit
underexposing akan memberikan hasil yang low-key, dan sedikit overexposing atau
penggunaan filter warna akan memberikan hasil warna yang kontras. Idealnya, sebuah
foto mempunyai satu subyek utama dan satu warna utama, sedang subyek dan warna
lainnya merupakan pendukung. Sebuah komposisi yang warnanya terdiri dari tingkat
warna sejenis akan menghasilkan foto yang tenang.
Unsur-unsur pendukung komposisi ini sangat dipengaruhi oleh sumber cahaya yang
berupa cahaya seadanya, seperti cahaya matahari, lampu jalan atau cahaya dari lampu
studio. Perbedaan sumber cahaya dan sudut pencahayaan akan meberikan hasil yang
berbeda.
JENIS-JENIS KOMPOSISI
Dari satu obyek yang sama dapat dihasilkan berbagai macam komposisi. Hasil
pemotretan sebuah obyek dengan sudut pengambilan dari sisi kiri akan berbeda
dibandingkan dari sisi kanan, berbeda pula bila diambil dari sisi atas, dan bawah.
Perbedaan sudut pengambilan gambar akan membedakan hasil gambar. Cara pemotretan
demikian dapat memberikan beberapa alternatif karya untuk dapat dipilih yang terbaik bagi
suatu keperluan pemotretan.
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
53
Ada beberapa macam komposisi yang dapat dipergunakan dalam memotret obyek,
antara lain komposisi simetris, asimetris (tidak simetris), sentral, diagonal, vertikal, dan
horizontal.
1. Komposisi simetris
2. Komposisi asimetris (tidak simetris)
3. Komposisi sentral
4. Komposisi diagonal
5. Komposisi vertikal
6. Komposisi horizontal
PEDOMAN KOMPOSISI
Ada beberapa pedoman sederhana dalam menentukan komposisi, yaitu
1. Ruangan gambar dibagi menjadi tiga bagian, vertikal dan horizontal dengan garis-garis
khayal. Titik-titik dimana garis-garis berpotongan merupakan tempat terbaik untuk
meletakkan obyel-obyek utama dan obyek tambahan. Sebuah gambar dengan obyek
utama berada di pusat ruangan kurang menarik untuk dipandang.
2. Garis sejajar horizontal akan mengarahkan mata langsung ke luar gambar dan dengan
demikian dapat merusak suasana. Sebaiknya digunakan garis-garis sejajar vertikal
(seperti batang pohon) yang ditarik dari atas ke bawah asalkan mereka diseling pada
titik-titik tertentu.
3. Garis-garis yang berpotongan akan menjuruskan mata ke arah sudut. Jika mereka tidak
berpotongan akan menjuruskan mata ke arah titik pada gambar dimana mereka
sebenarnya akan dapat berpotongan jika dikehendaki. Garis-garis yang paling berhasil
pada komposisi yang baik ialah yang melintang diagonal pada gambar.
4. Daerah-daerah yang penting sebaiknya tidak sama luasnya. Jangan sekali-kali
membagi gambar tepat setengah cakrawala atau kaki langit. Letakkan agak ke bawah
sepertiga atau ke atas duapertiga. Misalnya memotret matahari terbenam dari tepi
pantai.
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
54
5. Arah mencari cahaya. Daerah putih atau terang pada latar belakang yang gelap akan
menarik mata lebih kuat daripada tempat gelap pada latar belakang yang cemerlang.
6. Gambar disusun demikian rupa sehingga mata akan diarahkan pada titik pusat
perhatian utama.
7. Orang atau obyek apapun yang menghadap ke arah tertentu hendaknya mempunyai
ruangan yang lebih besar di depannya daripada di belakang, sehingga berkesan orang
itu memandang atau menuju ke suatu tujuan tertentu.
Praktek penggunaan komposisi di lapangan sebaiknya diawali dengan mengasah
kepekaan estetik melalui kliping karya-karya fotografi yang pernah dikumpulkan. Kegiatan
ini dapat ditingkatkan dengan mencoba untuk meng ‘croping’ (membuang) bagian-bagian
foto yang tidak perlu
PENERAPAN KOMPOSISI
1. Fotografi Iklan
Definisi iklan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berita pesanan untuk
mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda atau jasa yang ditawarkan;
iklan dapat pula berarti pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa
yang dijual, dipasang dalam media massa seperti surat kabar dan majalah. Iklan sebelum
diluncurkan ke pasar melalui beberapa konsep yang disusun dan direvisi biro iklan dengan
persetujuan klien atau pelanggan. Dalam rangkaian proses tersebut dibutuhkan
keterlibatan fotografer iklan yang berperan memotret obyek iklan yang sudah
direncanakan oleh biro iklan. Pemilihan obyek iklan atau yang lebih sering disebut dengan
model iklan telah ditentukan oleh biro iklan dengan persetujuan atau permintaan klien atau
pelanggan. Komposisi obyek pemotretan iklan juga sudah diatur sebelumnya. Demikian
pula citra yang ingin ditampilkan dalam pemotretan yang berpengaruh besar terhadap citra
iklan bahkan produk yang diiklankan. Dengan demikian, peran fotografer adalah
mengerjakan pemotretan iklan sesuai dengan komposisi obyek yang diminta oleh biro iklan.
Fotografer berkreasi dengan mengambil beberapa sudut pengambilan obyek dengan
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
55
alternatif gaya obyek maupun pencahayaan. Iklan yang akan diambil sebagai studi kasus
adalah iklan Citra White.
Citra White merupakan produk yang memposisikan dirinya di pasar sebagai lotion
pemutih dan pelembab kulit. Iklan Citra White yang ditampilkan dalam bentuk iklan cetak
di berbagai majalah dan surat kabar menggambarkan Devi yang kulitnya tidak seputih
Deva. Berkat Citra White dengan bahan alami Sari Bengkoang, Pro-Vitamin B3, dan tabir
surya, kulit Devi jadi lebih putih, halus dan lembut hanya dalam enam minggu. Kini Devi
laksana cermin bagi Deva.
Pemilihan model iklan disesuaikan dengan segmen pasarnya, yaitu wanita muda
modern yang sebagian besar mendambakan kulit lebih putih, halus, dan lembut. Model
iklan dipotret dalam berbagai pose untuk mencapai citra yang diinginkan. Dalam
pemotretan model yang dipentingkan adalah gaya yang tepat serta pencahayaan yang
sesuai dengan citra yang diinginkan. Iklan Citra White menampilkan tokoh kembar ‘Devi’
dan ‘Deva’, padahal sebenarnya fiktif, karena orangnya hanya satu. Tapi berkat
kemampuan teknologi digital yang canggih, maka dua foto orang yang sama digabungkan.
Yang membedakan hanya penataan rambutnya saja. ‘Deva’ ataupun ‘Devi’ yang samasama
menjadi pusat perhatian utama diambil dengan posisi vertikal disesuaikan dengan lay
out iklan yang dibuat biro iklan Citra Lintas. Badan ‘Deva’ dan ‘Devi’ memenuhi bidang
gambar, sehingga tidak ada yang kosong, sehingga gambar yang dapat diolah dengan
teknologi digital juga besar. Dalam teknologi digital, gambar yang lebih besar dari hasil
pemotretan langsung lebih baik daripada gambar kecil dari hasil pemotretan yang
kemudian dibesarkan beberapa kali dengan bantuan teknologi digital. Gambar besar dari
hasil pemotretan dan kemudian hanya dibesarkan dua kali akan lebih baik mutunya
daripada gambar kecil hasil pemotretan yang kemudian dibesarkan sampai 10 kali. Hal ini
mengingat, apabila sebuah gambar dibesarkan terlalu berlebihan melalui teknologi digital
akan pecah yang akan nampak pada hasil cetak berupa obyek yang bergerigi.
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
56
Sumber : Fotomedia, September 1999
Pemotretan diserahkan fotografer Ferry Ardianto. Fotografer menampilkan citra
high key dengan menggunakan intensitas cahaya yang tinggi. Warna yang menonjol pada
iklan ini adalah putih, sehingga berkesan bersih. Model kelihatan putih, demikian juga
dengan baju dan latar belakangnya. Pencahayaan dibantu dengan cahaya softbox yang
menimbulkan kesan lembut dan gelap terang warna baju putih di atas latar belakang putih
dapat tampil dimensinya tanpa terkesan terpotong-potong dan tidak memakai baju. ‘Deva’
dan ‘Devi’ dibidik dengan penataan lampu dan intensitas cahaya yang sama. Ferry
Ardianto menggunakan lima softbox serta dua softbox tambahan untuk latar belakang.
Lima softbox tersebut terbagi menjadi satu cahaya rambut, dua cahaya samping, satu
cahaya utama, satu cahaya pengisi. Pemilihan f-stop f/22 untuk cahaya utama dan cahaya
samping, f/16 untuk cahaya pengisi dan cahaya rambut, serta latar belakang disinari f/22,5
(1/2 stop over dari obyek). Dengan pengukuran seperti ini, baju dan latar belakang yang
sama-sama putih dapat dibedakan karena cahaya pengisinya tidak terlalu besar.
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
57
Sumber : Fotomedia, September 1999
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
58
Sumber : Femina no. 41 / XXVII, 21 Oktober 1999
2. Seni
Foto seni adalah foto yang menggambarkan keindahan. Obyek foto seni dapat
bervariasi mulai flora, fauna, samapai manusia dengan berbagai macam peristiwa atau
keperluan seperti foto dokumentasi, berita, dan pendidikan. Berbagai macam foto dapat
termasuk dalam kategori ini apabila foto tersebut memiliki isi (content), teknik fotografi,
dan estetika. Contoh: lansekap yang menggambarkan keindahan pemandangan alam.
Foto berformat vertikal di bawah didominasi oleh barisan pepohonan, tetapi dengan
pusat perhatian utama orang yang berjalan sendirian di atara pepohonan. Pencahayaan
pada foto tersebut sedikit overexposed sehingga menampilkan kontras warna yang baik,
apalagi untuk foto hitam putih. Barisan pepohonan dengan ranting-ranting kering tampil
dengan kontras warna yang sangat kuat. Suasana sepi dan roamntis tercermin melalui
gelap terang pencahayaan pada pohon yang berseling-seling. Suasana ini makin tampak
dengan adanya orang yang berjalan seolah-seolah menuju suatu sinar.
KOMPOSISI DALAM FOTOGRAFI (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
59
Sumber : Hedgecoe, John. John Hedgecoe’s New Book Of Photography, How To See And Take
Better Pictures. Dorling Kindersley Publishing, Inc., New York, 1994.
KESIMPULAN
Komposisi berperan besar dalam menghasilkan foto yang bermutu. Penerapan
komposisi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini dapat mulai dilatih sejak dini
oleh para fotografer muda secara intensif agar kepekaan estetisnya terlatih dengan baik.
Dengan demikian, akan dihasilkan foto yang menarik diamati oleh dirinya sendiri dan orang
lain.
NIRMANA Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 48 - 59
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
60
KEPUSTAKAAN
Am/Valens Hartadi P, “Si Kembar” Deva dan Devi Sama Putihnya, Fotomedia,
Jakarta, September 1999.
Beedell, Suzanne. Fotografi Waktu Senggang. Dahara Prize, Semarang. 1994.
Charpentier, Peter. Fotografi Potret. Dahara Prize, Semarang. 1993.
Charpentier Peter, Johan Den Ouden, Jan Visser. Motif Untuk Foto Anda. Dahara
Prize, Semarang. 1993.
Eastman Kodak Company. How to make good pictures, a handbook for the everyday
photographer. Eastman Kodak Company, Rochester, New York. 1943.
Haryanto Goenadi, Berbagai Segi Penilaian Foto Ditinjau Dari Hasil Seni, Buletin
PAF No. 198/XXV/ Sept – Okt, 1993.
Hedgecoe, John. John Hedgecoe’s New Book Of Photography, How To See And
Take Better Pictures. Dorling Kindersley Publishing, Inc., New York, 1994.

Nirmana Fotografi

NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
1
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN
Lesie Yuliadewi
Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Saat ini teknologi fotografi telah berkembang pesat, mulai dari penemuan kamera obscura
yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci sampai penemuan kamera digital yang dikeluarkan oleh
beberapa pabrik besar pembuat kamera. Seiring dengan hal itu peranan fotografi juga semakin
luas, yaitu sebagai pendukung ilmu pengetahuan yang lain, seperti desain komunikasi visual. Dari
sini timbullah istilah Fotografi Desain yang sering menjadi pertanyaaan di kalangan orang yang
akan terlibat dalam jurusan Desain Komunikasi Visual.
Pembahasan terdiri dari dua pokok bahasan, yaitu fotografi dasar dan fotografi desain.
ABSTRACT
At present, photography technology has grown rapidly. It began from invention of
obscura camera, which was invented by Leonardo da Vinci, until the invention of digital camera,
which are produced by camera factories. Together with this development, the role of photography
become expanded, that is to support the other sciences, like visual communication design. From
this case, the term design photography often become the question to those who are involved in
department visual communication design.
The dicussion consist of two sections, they are basic photography and design
photography.
Kata kunci : fotografi, fotografi desain, desain komunikasi visual
PENDAHULUAN
Perkembangan fotografi telah dimulai sejak zaman Aristoteles, dan masih terus
berkembang dengan demikian pesatnya. Mulai dari kamera obscura yang masih digunakan untuk
menggambar hingga kamera digital yang dapat dihubungkan dengan komputer, sehingga
prosesnya dapat menghemat waktu dan biaya. Berbagai pengembangan cara manipulasi gambar,
tidak hanya bisa dilakukan manual di laboratorium fotografi saja, tapi sudah dapat dilakukan
dengan bantuan teknologi komputer.
Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, peranan fotografi menjadi
semakin luas. Perkembangan fotografi dimulai dengan penemuan kamera obscura yang hanya
digunakan untuk mengabadikan citra alam. Pengabadian citra alam tersebut dengan cara
menggambar, bukan memotret. Sekarang, fotografi telah mendukung berbagai ilmu pengetahuan,
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
2
seperti kedokteran (contohnya, foto-foto tentang berbagai macam penyakit, alat kedokteran,
anatomi tubuh manusia), hukum (foto-foto tentang demonstrasi/unjuk rasa, pembunuhan, perang),
arsitektur (foto-foto pusat pertokoan, perumahan), desain komunikasi visual (foto-foto pada
brosur, foto-foto pada iklan koran, foto-foto pada iklan majalah, foto-foto pada booklet), dan lainlain.
Fotografi memiliki peranan besar sebagai pendukung desain komunikasi visual untuk
mengkomunikasikan suatu produk atau jasa kepada khalayak sasaran. Dengan melihat foto suatu
produk, seseorang dapat mengenali produk yang bersangkutan dengan lebih baik, daripada ia
hanya membayangkan saja.
Melalui karya tulis ini, diharapkan dapat memberikan gambaran singkat mengenai apa
perbedaan antara fotografi dan fotografi desain.
FOTOGRAFI
SEJARAH FOTOGRAFI
Sejarah fotografi tidak akan lepas dari penemuan kamera dan film. Dengan penemuan
film, kita dapat mereproduksi gambar, dan proses pencahayaan film tersebut terjadi di dalam
kamera.
Menurut sejarah, prinsip kerja kamera telah ditemukan sejak zaman Aristoteles, bahkan
mungkin sebelumnya. Aristoteles mengadakan percobaannya dengan merentangkan kulit yang
diberi lubang kecil, digelar di atas tanah dan diberi antara untuk menangkap bayangan matahari.
Sehingga cahaya dapat menembus dan memantul di atas tanah dan gerhana matahari dapat
diamati.
Kemudian penemuan kamera obscura ditemukan oleh Leonardo da Vinci, sorang pelukis
dan ilmuwan. Kamera obscura berupa sebuah kamar gelap yang diberi lubang kecil di salah satu
sisinya, sehingga seberkas cahaya dapat masuk dan membuat bayangan dari benda-benda yang
ada di depannya.
NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
3
Gambar kamera obscura (Newhall, Beaumont, The History of Photography, The Museum of Modern Art,
New York, 1982, halaman 10)
Pada mulanya kamera ini tidak begitu diminati, karena cahaya yang masuk amat sedikit, sehingga
bayangan yang terbentuk pun samar-samar. Penggunaannya terutama masih untuk menggambar
benda-benda yang ada di depan kamera. Penggunaan kamera ini baru populer setelah
ditemukannya lensa pada tahun 1550. Dengan lensa pada kamera ini, maka cahaya yang masuk
ke kamera dapat diperbanyak, dan gambar dapat dipusatkan, sehingga menggambar menjadi lebih
sempurna. Tahun 1575, kamera portable yang pertama baru dibuat, dan penemuan kamera ini
untuk menggambar makin praktis. Baru tahun 1680 lahir kamera refleks pertama, namun
penggunaannya masih untuk menggambar, karena bahan baku untuk mengabadikan benda-benda
yang berada di depan lensa selain dengan menggambar masih belum ditemukan. Jadi, pada zaman
tersebut, kamera masih dipakai untuk mempermudah dalam menggambar. Dimana hasil dari
kamera tersebut masih belum dapat direproduksi, karena belum ditemukannya film negatif.
Sejarah penemuan film dimulai ketika orang berusaha untuk dapat mengabadikan benda
yang berada di depan kamera, sudah mulai berkembang sejak abad ke-19, dengan adanya
penemuan penting oleh Joseph Niepce, seorang veteran Perancis. Ia bereksperimen dengan
menggunakan Aspal Bitumen Judea. Dengan pencahayaan 8 jam, ia berhasil mengabadikan benda
yang berada di depan lensa kameranya menjadi sebuah gambar pada plat yang telah dilapisi
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
4
bahan kimia tersebut. Namun melalui percobaaan ini masih belum dapat membuat duplikat
gambar
Percobaan demi percobaan telah dilakukan untuk menemukan bahan pembuat duplikat
gambar, tetapi tetap gagal. Sampai akhirnya Sir Henry Talbott menemukan Callotype dari bahan
kertas yang gambar-gambarnya berupa gambar negatif dan dapat direproduksi. Tapi penemuan ini
kurang diminati, karena hasilnya kurang tajam.
Kemudian lahirlah Collodion, bahan baku fotografi yang diperkenalkan oleh Frederick
Scott Archer, dengan menggunakan kaca sebagai bahan dasarnya. Proses ini adalah proses basah.
Bahan kimia tersebut dilapiskan ke kaca, kemudian langsung dipasang pada kamera obscura, dan
gambar yang dihasilkan lebih baik. Cara ini banyak dipakai untuk memotret di seluruh Eropa dan
Amerika, sampai ditemukannya bahan gelatin dan ditemukannya bahan kimia yang dapat
digunakan untuk proses kering.
Tahun 1895, George Eastman membuat film gulung (roll film) dengan bahan gelatin,
yang dipakai untuk memotret (mengabadikan citra alam) sampai sekarang.
Penemuan-penemuan tersebut di atas telah mempermudah kita dalam mengabadikan
benda-benda yang berada di depan lensa dan mereproduksinya, sehingga para fotografer, baik
amatir maupun profesional dapat menghasilkan suatu karya seni tinggi, tanpa perlu terhalang oleh
keterbatasan teknologi.
KAMERA
Kamera yang beredar di pasaran terdapat beberapa jenis (berdasarkan cara
pengoperasiannya), yaitu kamera otomatik, semi otomatik, dan manual. Kamera otomatik bisa
dipakai tanpa harus mempelajari cara kerja kamera yang rumit, biasanya banyak dipakai oleh
orang-orang awam untuk kebutuhan praktis. Kamera semi otomatik memerlukan sedikit
pengetahuan mengenai cara kerja kamera sebelum kita memakai kamera tersebut, biasanya
dipakai oleh para penggemar fotografi. Sedangkan kamera manual memerlukan pemahaman yang
mendetail mengenai cara kerja kamera sebelum kita mulai memakainya, biasanya dipakai oleh
para hobis (penggemar) dan profesional fotografi.
Kedua jenis kamera yang terakhir inilah yang paling banyak dipakai dalam pendidikan
jurusan desain komunikasi visual, karena pada jurusan ini diajarkan bagaimana menggunakan
kamera secara manual.
PEMOTRETAN
NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
5
Ada banyak teknik pemotretan yang dapat dipelajari dan sangat mungkin dikembangkan
lebih lanjut dengan kamera-kamera manual maupun semi otomatis. Bagian paling awal dari
pemotretan adalah kita mengenal bagian-bagian dari tubuh kamera dan fungsinya, seperti
penggunaan diafragma (bukaan), shutter (rana), dan lain-lain. Sehingga, bila kita memotret kita
tak perlu lagi dipusingkan dengan bagaimana cara mengoperasikan kamera.
Shutter atau rana berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya sinar atau cahaya yang
masuk ke kamera dan mengenai bidang film. Shutter atau rana dinyatakan dengan angka-angka B,
1,2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500, 1000, 2000, B (atau T) artinya bila kita menekan tombol,
maka shutter atau rana akan membuka, dan pada waktu kita lepaskan tekanan, shutter akan
menutup. 2 artinya ½ sekon. 100 artinya 1/100 sekon, dan seterusnya. B (Bulb) atau T (Time)
akan digunakan apabila dibutuhkan pencahayaan melebihi waktu 1 detik. Makin besar shutter
(rana) membuka, maka semakin banyak sinar yang akan masuk, dan sebaliknya.
Diafragma berfungsi membuka dan menutup lebar lensa sepenuhnya, sehingga cahaya
dapat masuk ke kamera dan mengenai bidang film. Angka bukaan diafragma dinyatakan dengan
angka f/1,4, f/2, f/2.8, f/4, f/5,6, f/8, f/8, f/11, f/16, f/22.
Fungsi diafragma dan shutter (rana) hampir sama. Perbedaannya dapat dilihat pada hasil
pemotretan:
Makin kecil angka difragma, contoh f/1,4, maka makin besar bukaan, sehingga makin banyak
cahaya yang masuk. Akibatnya, latar belakang foto tampak lebih kabur. Makin besar angka
diafragma, contoh f/22, maka makin kecil bukaan, sehingga makin sedikit cahaya yang
masuk. Akibatnya latar belakang foto tampak jelas.
Makin kecil angka kecepatan shutter (rana), contoh 15 (1/15 detik), maka makin lambat
kecepatan rananya, sehingga makin banyak cahaya yang masuk. Akibatnya obyek pemotretan
tampak seakan-akan bergerak. Makin besar angka kecepatan shutter (rana), contoh 2000
(1/2000 detik), maka makin cepat kecepatan rananya, sehingga makin sedikit cahaya yang
masuk. Akibatnya, obyek pemotretan tampak seakan-akan beku, tidak bergerak.
Teknik-teknik pemotretan dasar antara lain memotret dengan menggunakan latar
belakang (background) atau latar depan (foreground) kabur, latar belakang dan latar depan jelas
semua. Teknik pemotretan semacam ini dapat dipelajari dengan menguasai pemakaian diafragma
yang telah dijelaskan pada alinea sebelumnya.
Kemudian dilanjutkan dengan freeze, movement, panning, dan lain-lain yang menuntut
penguasaan bagian-bagian tubuh kamera secara mendalam. Cara pemotretan freeze, movement,
dan panning adalah sebagai berikut:
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
6
Cara pemotretan freeze adalah membidikkan kamera pada obyek yang bergerak dengan
memilih angka shutter yang besar, misalnya 2000, tanpa dibantu dengan alat penyangga
kamera (tripod).
Cara pemotretan movement adalah membidikkan kamera pada obyek yang bergerak dengan
memilih angka shutter yang kecil, misalnya f/15, dan dibantu dengan alat penyangga kamera
(tripod).
Cara pemotretan panning adalah membidikan kamera dengan mengikuti gerakan obyek.
Angka shutter dipilih yang kecil, mulai f/30. Pemotretan ini dilakukan tanpa bantuan alat
penyangga kamera (tripod).
Pengambilan lokasi pemotretan dapat berlangsung di dalam (indoor) atau di luar ruangan
(outdoor). Di dalam ruangan (indoor), kita dapat memanfaatkan studio foto untuk pemotretan
model, atau produk dengan berbagai peralatan studio, seperti lampu-lampu studio, layar yang
dipakai sebagai latar belakang (background), table top, dan lain-lain. Pencahayaan di studio
fotografi dapat diperoleh dari lampu-lampu studio, lilin, atau cahaya jendela. Pencahayaan
memotret di luar ruangan (indoor) diperoleh dari cahaya matahari, atau dengan bantuan lampu
kilat (flash).
KAMAR GELAP
Selain proses pemotretan, proses yang tidak kalah pentingnya adalah proses yang terjadi
di laboratorium fotografi, yang sering disebut juga sebagai kamar gelap. Peranan kamar gelap
sangat besar dalam terciptanya suatu karya seni foto yang bernilai tinggi. Karena di tempat inilah
kita dapat melakukan manipulasi gambar.
Proses yang lebih banyak dilakukan secara manual di laboratorium fotografi (kamar
gelap) adalah proses fotografi hitam putih, karena proses fotografi warna memerlukan
perlengkapan yang lebih mahal, dan boros.
Proses fotografi yang terjadi di kamar gelap, terbagi menjadi dua proses, yaitu proses
pencucian film dan pencetakan foto (printing). Di sinilah, dapat dilakukan eksperimen yang akan
melibatkan banyak kreatifitas secara manual.
Besarnya peranan kamar gelap ini dapat tercermin dari pernyataan Prof. R. M. Soelarko
dalam bukunya Teknik Fotografi Modern: “Hasil pemotretan yang biasa dapat dirubah menjadi
karya seni, oleh seseorang yang mahir dalam prosedur kamar gelap. Malahan ia dapat membuat
macam-macam versi dari tema yang sama, yang satu berbeda dengan yang lain.” (1982:vii).
NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
7
Proses pencucian film dilakukan terlebih dulu sebelum mencetak foto. Sebuah film
dikeluarkan dari kamera. Kemudian, gulungan film dikeluarkan dari kasetnya yang berbentuk rol
dalam keadaan ruangan gelap total. Atau, dilakukan dengan bantuan change bag, sebuah kantong
hitam rapat cahaya, yang bentuknya seperti baju anak kecil, dibuat dari kain hitam, dan dapat
dibuka dengan tutupan zip (resleting).
Film digulung pada REEL plastik yang ada dalam tangki pengembang. Kemudian tangki
pengembang tersebut diisi dengan obat pengembang. Ukuran suhu obat pengembang perlu
diperhatikan, begitu juga dengan lama pengembangan (gunakan timer/pengukur waktu). Setelah
waktu pengembangan selesai, obat pengembang dibuang, dan stop bath atau air biasa dituang,
dan digojak dengan baik, supaya bersih. Air dibuang dan diganti dengan fixer selama 10 menit,
sebaiknya suhu yang digunakan sama dengan suhu obat pengembang di atas. Setelah itu, fixer
dibuang dan diganti dengan air. Selanjutnya segera dapat dilihat hasilnya, berhasil atau gagal !
Pencetakan foto secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan enlarger dan
pengembangannya dilakukan dengan larutan pengembang (developer), stop bath (air bilas biasa),
fixer, dan air biasa untuk membilas kertas foto sampai bersih. Namun demikian, sebagian besar
penggemar foto lebih suka menyerahkan pekerjaan proses film dan cetak pada laboratorium foto
untuk menghemat biaya dan waktu, terutama untuk foto warna.
Pada laboratorium foto warna profesional, kita dapat meminta pada seorang operator
mesin cetak warna untuk mengatur warna sesuai keinginan kita. Misalnya ditambah warna
kuningnya (yellow), atau biru (cyan).
Jumlah laboratorium-laboratorium foto profesional semacam itu cukup jarang (yang
dapat diminta untuk mengatur warna), bahkan di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta.
FOTOGRAFI DESAIN
Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, fotografi pun makin luas
peranannya pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara lain pada disiplin desain
komunikasi visual. 1
Pada bidang desain komunikasi visual, foto sangat berkaitan erat dengan iklan (seperti
iklan majalah, iklan surat kabar, brosur, katalog, poster, dan lain-lain). Foto dalam Desain
Komunikasi Visual digunakan untuk membantu proses komunikasi, menggambarkan suatu
keadaan dan, atau produk (contohnya, foto iklan obat demam anak-anak yang menggambarkan
keadaan si anak sebelum dan sesudah meminum obat tersebut). Dengan demikian, diharapkan
1 Pada jurusan Desain Komunikasi Visual, terdapat mata kuliah fotografi yang mengajarkan teknik-teknik
dasar fotografi dan dilanjutkan dengan peranan fotografi dalam desain komunikasi visual. Bagian inilah
yang disebut Fotografi Desain, yang merupakan penggabungan antara fotografi dan desain komunikasi
visual.
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
8
sasaran dapat lebih mengenal suatu produk atau jasa melalui foto tersebut, daripada sasaran hanya
membayangkan suatu produk atau jasa tersebut.
Foto dibuat berdasarkan suatu konsep desain untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan
keinginan desainer atau pengguna. Biasanya, dibuat untuk keperluan suatu iklan (suatu pesan
mengenai suatu produk/jasa yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa
yang dikenal, dan ditujukan kepada sebagian atau keseluruhan masyarakat). Foto harus produktif
(dalam arti membangkitkan minat), komunikatif, dan menghasilkan respon melalui daya tarik
visualnya dalam mendukung suatu iklan.
Dalam menghasilkan foto yang mendukung suatu iklan, komunikator visual harus
memperhatikan bagaimana konsep desainnya dan kemudian merancang foto yang sesuai dengan
konsep desain tersebut. Langkah-langkah dalam pemikiran konsep desain dan perancangan foto
sebagai berikut:
Pertama, konsep desain terbentuk berdasarkan pembicaraan dengan klien mengenai
kelebihan-kelebihan apa yang ingin ditampilkan, bagaimana janji-janji yang akan diberikan,
dan sebagainya. Dari sini, diharapkan mendapatkan informasi yang mencukupi untuk
membuat alternatif pemikiran desain.
Kedua, kita merancang foto, dalam arti kita mencipta suatu rupa foto yang mempunyai
maksud tertentu melalui pemecahan masalah tersebut dengan melibatkan pemikiran,
perasaan, dan keterampilan. Pembuatan foto semacam ini memiliki keterikatan dengan
berbagai tuntutan (seperti pemesan, teknis, komunikasi, biaya), kebebasan terbatas (membuat
foto yang tidak asal indah/bagus), mengemban tugas tertentu (sesuai dengan konsep), bisa
dibuat perorangan atau pun berkelompok (team work), dan tujuan akhirnya adalah
keberhasilan dalam mencapai tujuan yang diemban (sesuai dengan konsep).
Adapun pedoman dalam merancang tersebut adalah 5W 1H (Where, What, When,Who,
Why, How). Who yang dimaksud disini adalah si pemberi pesan dan penerima pesan (khalayak
sasaran). What yang dimaksud adalah pesan apa yang akan disampaikan untuk menjual suatu
produk/jasa. Why yang dimaksud misalnya mengapa disampaikan ke khalayak sasaran. Where,
dimana akan dipasarkan. When, kapan akan dipasarkan. How yang dimaksud adalah bagaimana
cara menyampaikan pesan melalui foto yang dibuat.
Selain beberapa pedoman yang telah disebutkan di atas, sebagai seorang fotografer yang
mendukung suatu kegiatan promosi produk atau jasa, ada baiknya kita mengerti tata krama dan
tata cara periklanan di suatu negara atau daerah khalayak sasaran. Hal ini penting untuk
diperhatikan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita/klien inginkan, antara lain seperti
kegagalan promosi.Di Indonesia (bila iklan itu dipakai untuk khalayak sasaran di Indonesia),
NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
9
berlaku tata krama dan tata cara periklanan Indonesia untuk seluruh perusahaan periklanan,
bioskop, perusahaan radio, dan surat kabar di Indonesia. Dimana di dalamnya memuat bahwa
iklan itu harus jujur, bertanggung jawab, tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, tidak
boleh menyinggung perasaan dan atau merendahkan martabat agama, tata susila, adat, budaya,
suku, golongan, dan lain-lain.
Tahapan membuat suatu iklan yang perlu disimak, antara lain sebagai berikut:
Klien datang ke suatu biro iklan dengan masalah-masalah produk atau jasa. Di sini
dibicarakan mengenai keluhan/masalah, kelemahan, keunggulan, pesaing/kompetitor,
khalayak sasaran, dan lain-lain dari produk yang bersangkutan.
Dibuat suatu pemikiran atau konsep desain (problem solving) dari masalah-masalah diatas.
Diskusi dengan klien mengenai problem solving.
Mendesain.
Persetujuan desain dengan klien.
Perbaikan desain (bila diperlukan).
Persetujuan desain perbaikan dengan klien.
Final Artwork (FA).
Color Separation (Separasi warna) dan Proof.
Cetak.
Berikut diberikan sebuah contoh iklan majalah obat pereda demam untuk anak-anak merk
Tempra produksi MeadJohnson. Ada tiga macam foto yang digunakan untuk membantu proses
komunikasi, yaitu foto seorang anak yang mengalami demam (tampak cemberut), foto setelah si
anak tersenyum kembali karena sembuh berkat obat pereda demam yang diiklankan, dan foto
kemasan (packaging) obat pereda demam anak-anak tersebut. Dalam pembuatan foto ini ada
beberapa pedoman pemikiran dalam merancang desain visual:
Who, siapa si pemberi dan penerima pesan ? Si pemberi pesan adalah produsen obat pereda
demam anak-anak, dan para orangtua yang mempunyai anak di bawah usia dewasa
(berdomisili di Indonesia) sebagai khalayak sasarannya.
What, apa yang akan disampaikan untuk menjual produk/jasa kepada khalayak sasaran ?
Pesan yang akan disampaikan untuk menjual produk obat pereda demam anak-anak tersebut
adalah keefektifan obat pereda demam tersebut menurunkan demam anak Anda, sehingga
membuat anak Anda ceria kembali.
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
10
Why, mengapa pesan disampaikan ke khalayak sasaran ? Iklan obat pereda demam anak-anak
disampaikan ke khalayak sasaran agar khalayak sasaran mengetahui, mengenal, dan
diharapkan membeli produk obat pereda demam anak-anak tersebut.
NIRMANA Vol. 1 No. 1 JANUARI 1999
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
11
Where, dimana akan dipasarkan ? Dalam iklan ini yang dimaksud yang dimaksud adalah
dipasarkan di wilayah Indonesia.
When , kapan akan dipasarkan. Hal ini berkaitan dengan kapan (jangka waktu) iklan tersebut
dipakai untuk mendukung pemasaran suatu produk.
How, bagaimana cara menyampaikan pesan melalui foto yang dibuat ? Cara menyampaikan
pesan melalui pendekatan emosional, karena yang lebih memperhatikan perkembangan anak
adalah ibu-ibu rumah tangga (biasanya).
Dengan melihat sebuah foto, khalayak sasaran (pemirsa) akan lebih mudah mengingat
dan mengerti efek positif produk tersebut, daripada bila ia hanya membayangkan saja bagaiamana
wujud produk tersebut.
Fotografi desain tidak hanya berkaitan dengan media cetak seperti yang disebutkan di
atas, tapi juga dapat dikaitkan dengan pembuatan slide suara.
KESIMPULAN
Fotografi dalam desain komunikasi visual tidak berdiri sendiri, tapi mendukung fungsi
utama dari desain komunikasi visual itu sendiri, yaitu untuk berkomunikasi antara produsen
produk atau jasa kepada khalayak sasarannya. Dan untuk itu, fotografi dalam desain komunikasi
visual memerlukan pemecahan dari berbagai masalah yang timbul, seperti masalah komunikasi
(pesan dapat ditangkap atau tidak oleh khalayak sasaran), masalah artistik (keindahan dari foto itu
sendiri), masalah teknis (masalah pencetakan, lebih baik dicetak di atas kertas koran, art paper ?),
dan masalah biaya (besar biaya biasanya telah ditentukan berdasarkan persetujuan dengan klien).
KEPUSTAKAAN
ASPINDO, P3I, BPMN/SPS, PRSSNI, GPBSI, Tata Krama dan Tata Cara Periklanan
Indonesia, Direktorat Bina Pers Departemen Penerangan RI, Jakarta, 1981.
Beaumont Newhall, The History of Photography, The Museum of Modern Art, New York, 1982.
Barbara London, Photography, An Introduction to Black-and-White Photographic Technique,
HarperCollins, United States, 1991.
Drs. Djoni Djauhari, Kuliah Fotografi Desain , Universitas Trisakti, Jakarta, 1996.
Drs. Sandjaja, Selintas tentang Sejarah Fotografi, Universitas Trisakti, Jakarta, 1994.
Drs. R. Sumarsono D., Kuliah Komunikasi Periklanan 1, Universitas Trisakti, Jakarta, 1995.
Drs. R. Sumarsono D., Kuliah Komunikasi Periklanan 2, Universitas Trisakti, Jakarta, 1996.
MENGENAL FOTOGRAFI DAN FOTOGRAFI DESAIN (Lesie Yuliadewi)
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
12
Fotomedia, Still-Life Mengubah Konsep dan Desain , Jakarta, September 1996.
John Freeman, Practical Photography, Reed Editions, Australia, 1995.
Mitchell Beazley, John Hedgecoe’s Workbook of Darkroom Techniques, Reed International
Books Ltd, London, 1985.
Prof. Dr. R. M. Soelarko, Teknik Fotografi Modern, P.T. Karya Nusantara, Bandung, 1982.
Prof. Dr. R. M. Soelarko, Penuntun Fotografi, P.T. Karya Nusantara, Bandung, 1981